Beers, Harley, and ‘Southern Metal’

Ketika Nirvana, Oasis, Radiohead, dan Chino Moreno mulai tanggal dari jajaran poster di kamar saya, ‘setan-setan’ kecil berwajah baru mulai terbang mengelilingi kepala saya, setan kecil berjanggut lebat, berjaket kulit, dan bersepatu boots yang mulai mengambil aba-aba untuk merasuki pikiran saya.

Begitulah, usia kepala tiga membuat playlist di iPod saya sedikit berubah. Dulu, Sepultura, Lamb Of God, Arkangel, Hatebreed, Terror, Strife, Sick Of It All, dan Meshuggah selalu ‘repeat all‘ di mp3 player saya. Banyak faktor, salah satunya mungkin karena telinga saya yang sudah tidak mampu mendengarkan musik bising bertempo cepat. Hardcore, Progressive Metal, Death Metal (you name it), perlahan mulai menjadi simpanan bergiga-giga di external hard disk, kaus-kaus band metal yang kebanyakan berwarna hitam kini hanya saya gunakan untuk tidur, mengingat selain kaus itu saya hanya punya kemeja kantor.

Fase ini membawa saya beralih ke ‘dimensi’ lain, tampilan bikers berjaket kulit, berjanggut tebal, dan bercelana jeans belel merubah mindset saya tentang ‘keren’, bagi saya begitulah refleksi dari pria sejati. Berawal dari kesukaan saya akan film-film bertema Harley Davidson, sebut saja serial Sons Of Anarchy dan Outlaw Chronicles: Hells Angels. Satu hal yang tidak kalah penting adalah soundtrack dari film tersebut, musik bertempo lambat, dengan low tuning guitar, dan distorsi tebal seakan slow motion mengalun merasuki telinga saya. Wow, musik apa ini? Berbekal sedikit pengetahuan saya akan musik metal dan rock, saya mulai menjelajah internet bermaksud mencari tahu genre musik apa ini.

Tidak terhitung berapa kata kunci yang sudah saya masukkan ke kotak pencarian Google tapi tidak juga matched dengan apa yang saya cari, ‘Sliding Metal Blues’, ‘Drunk Rock’, ‘Beer Sliding Metal’, ‘Slow Tempo Blues Metal’, ‘Bikers Metal Blues’, …ah sudahlah.

Waktu berlalu, saya mendengarkan Black Label Society via streaming Youtube untuk menemani saya menghadapi deadline di kantor, yup, Zakk Wylde-lah yang mempertemukan saya dengan klasifikasi musik jenis ini, fitur related video di Youtube menuntun saya pada ‘swamp rock playlist’. Ok, gotcha.. This is the correct keyword, this is what i’m looking for!

Perkawinan ‘Sedarah’ Folk, Country, dan Blues

Swamp‘, ibarat cangkul emas baja berkekuatan besar yang membantu saya menggali jenis musik ini, ada berbagai lapisan yang harus saya hadapi untuk sampai ke dasar paling bawah, yang menurut saya akar dari jenis musik ini adalah Blues, yang tumbuh menjalar menjadi berbagai jenis musik dan berkembang hingga saat ini.

‘Ibu kandung’ dari musik ini adalah Swamp Blues yang dikenal juga dengan the Excello Sound, adalah subgenre dari musik blues dan merupakan varian dari Lousiana Blues yang dikembangkan di sekitar Baton Rouge pada tahun 1950-an dan mencapai puncak popularitasnya pada sekitar tahun 1960. Umumnya musik ini bertempo lambat dan sangat terpengaruh akan genre musik lain, seperti New Orleans Blues, Zydeco, Soul, dan musik Cajun. Pengusung musik ini yang cukup populer adalah Slim Harpo dan Lightnin’ Slim.

Banyaknya musisi kulit putih yang juga menggemari swamp blues membuatnya mengalami ‘kawin silang’ dengan genre musik lain, hasil dari pencangkokan ini adalah Roots Rock, dan merupakan batang baru pada ‘pohon besar’ ini. Folk, Blues, dan Country memegang peran penting dalam lahirnya Roots Rock, musik ini juga terkait dengan lahirnya Country Rock dan Southern Rock yang berkembang pada tahun 1960-an. Roots Rock juga disebut sebagai ‘tanggapan’ atas mendominasinya aliran musik Psychedelic dan Progressive Rock.

Gelombang Panas dari Ranah Selatan

Southern Rock, adalah subgenre dari musik rock dan merupakan genre yang biasa disebut dengan Americana. Berkembang di Amerika bagian selatan, dan merupakan hasil godokan dari rock ‘n’ roll, country, dan blues. Pada umumnya, musik ini sangat menonjolkan gitar elektrik dan vokal. The Allman Brothers Band, Barefoot Jerry, dan Charlie Daniels merupakan beberapa musisi pengusung sourthern rock pada akhir 60-an. Banyak orang berpendapat bahwa kontribusi besar southern rock pada perkembangan rock ‘n’ roll telah ‘diciutkan’ dari sejarah musik rock dunia.

Pada awal 1970, gelombang Southern Hard Rock mulai menampakkan taring nya, musik ini menekankan pada boogie rhythms dan melodi gitar cepat, serta lirik yang mewakili nilai dan aspirasi para kaum muda pekerja dari selatan. Beberapa nama besar dari musik ini adalah The Marshall Tucker Band, Lynyrd Skynyrd, Molly Hatchet, Outlaws, Atlanta Rhythm Section, dan Blackfoot. Nama-nama seperti Drivin N Cryin, Dash Rip Rock, dan The Kentucky Headhunters muncul sebagai band southern populer di seluruh Amerika Bagian Selatan sepanjang tahun 1980 dan 1990-an. Nama lainnya adalah Tom Petty and The Heartbreakers, Stevie Ray Vaughan, dan The Fabulous Thunderbirds.

Generasi 90-an juga menyaksikan bagaimana pengaruh southern rock ‘menyentuh’ genre musik Metal. Pada tahun 2001, Kid Rock pun memutuskan berubah haluan dari rock/rapper menjadi southern rocker dan penyanyi country. Southern rock kini masih terdengar di radio di Amerika, tapi kebanyakan stasiun radio ‘jadul’ ataupun radio bertema classic rock yang memutar musik ini. Sebagai tambahan, band alternative rock seperti Kings of Leon berusaha mengombinasikan southern rock dengan garage rock, alt-country, dan blues rock.

Di ‘bawah tanah’, modifikasi genre southern rock mendidih menjadi lebih keras, cepat, dan mungkin bisa dibilang lebih ‘berandalan’. Dengan drum set ‘beramunisi’ double pedal, distorsi gitar hampir 100 persen, sound bass yang lebih crunchy, ditambah dengan vokal serak yang lebih ter-distorsi, southern rock bertransformasi menjadi lebih gahar berlabel Southern Metal. Pantera, Black Label Society, Down, Exhorder, Crowbar, Eyehategod, dan Texas Hippie Coalition adalah nama besar dari aliran musik ini.

Dimebag Darrell, gitaris Pantera, mungkin cukup pantas dinobatkan sebagai ‘Godfather‘ dalam genre musik southern metal ini. Sangat disayangkan, Pantera harus mengakhiri kedigdayaannya pada tahun 2003 karena perselisihan Dimebag Darrell dengan sang vokalis Philip Anselmo, dan disusul dengan tragedi ditembaknya Dimebag oleh fans nya ketika diatas panggung saat bermain dengan band baru nya, Damage Plan.

Antara Bir, Harley, dan Southern Rock

Gaya hidup penganut aliran musik ini memang erat kaitannya dengan bir dan motor besar tradisional Amerika, sebut saja Harley Davidson. Dengan jaket/rompi kulit ber-emblem, jeans, sepatu boots, bandana, dan dompet kulit terkait rantai, secara konvoi atau perorangan mereka menyusuri sepanjang jalan tanpa takut dihadang polisi ataupun kemacetan lalu lintas. Mereka berhenti di bar lokal hanya untuk minum bir ataupun berkumpul dengan teman satu club nya. Saya tidak akan membahas motorcycle club seperti Hells Angels, Bandidos, Outlaws, dan sebagainya. Too scary to be told.

Media komersil pun seakan setuju akan hal ini. Di TV, saat menampilkan hal yang berkaitan dengan klub motor besar Harley Davidson, seketika suara gitar elektrik ber-distorsi dengan low tuning mengalun lambat, dimainkan dengan slide, lalu frame kamera mengarah ke spot di pinggir jalan dimana tergolek tengkorak kepala binatang yang mati karena kelaparan, tak lama terdengar suara deru mesin motor besar yang seakan fade in mengisi kesunyian terik hari, dengan kecepatan tinggi konvoi para Biker melesat mendekat ke arah perspektif kamera.

See? I told you.. They are so fuckin’ cool!

(Ry)

Advertisements

Menyusur Kedigdayaan The Tielman Brothers

The Timor Rhythm Brothers, adalah sebutan awal grup musik yang dibentuk di Surabaya pada tahun 1945 ini, sebelum kemudian bertransfromasi menjadi The Tielman Brothers. Popularitas band ini sudah dimulai jauh sebelum The Beatles dan The Rolling Stones lahir.

Lahir dari pasangan Herman Dirk Tielman dan Flora Laurentine Hess, kelima kakak-beradik ini terdiri dari Andy Tielman (Vocal, Guitar), Reggy Tielman (Guitar, Vocal, Banjo), Ponthon Tielman (Contrabass, Guitar, Vocal), Loulou (Herman Lawrence) Tielman (Drums, Vocal), Jane (Janette Loraine) Tielman (Vocal), The Timor Rhythm Brothers mengawali sejarah mereka dengan membawakan lagu-lagu daerah yang dibumbui dengan tarian khas Indonesia. Bakat musik sang Ayah yang mengalir dalam darah mereka, turut menjadi faktor penentu ‘jalan’ yang telah mereka pilih.

Nama mereka menjadi buah bibir di kalangan masyarakat pada masa itu, sehingga tidak memakan waktu lama bagi mereka untuk menjadi grup yang ditunggu-tunggu sebagai penampil dalam berbagai acara di Indonesia.

Puncak karir mereka di Indonesia ditandai dengan diundangnya The Timor Rhythm Brothers, pada 29 Desember 1949, ke Istana Negara dan bermain di hadapan Presiden Indonesia kala itu, Ir. Soekarno. Sedikit sekali sumber yang menjelaskan lagu apa yang mereka bawakan di Istana, saya berkesimpulan mungkin mereka membawakan lagu-lagu daerah Indonesia, mengingat Presiden Soekarno yang sangat anti dengan rock barat yang selalu beliau sebut dengan musik ‘ngak ngik ngok‘.

Perkembangan karir mereka sangat pesat, mereka mulai meng-cover lagu-lagu musisi lain seperti Les Paul, Elvis Presley, Little Richard, Bill Haley, Fats Domino, Chuck Berry dan Gene Vincent. Pada tahun 1951, mereka memperkenalkan versi lain dari lagu “Guitar Boogie” milik Arthur Smith. Dalam satu wawancara, Andy Tielman mengatakan bahwa “Guitar Boogie” adalah lagu pertamanya dengan The Tielman Brothers yang diubah menjadi rock ‘n’ roll dengan menambahkan drum pada lagu tersebut.

The Tielman Brothers pernah menerima tawaran untuk bermain di seluruh Indonesia, dengan satu syarat mereka harus mengganti status kewarganegaraan dari Belanda menjadi Indonesia. Namun ayah mereka (Herman Tielman) berpendapat lain, menurutnya masa depan di Belanda akan lebih baik bagi anak-anaknya ketimbang di Indonesia.

Keluarga Tielman akhirnya memutuskan untuk hijrah ke Belanda pada tahun 1957, ini adalah awal mula pemicu mereka dalam mendalami musik rock, yang lebih dikenal pada masa itu sebagai Rock ‘n’ Roll. Sebagai informasi, Rock ‘n’ Roll adalah genre musik yang berkembang pada tahun 1940 dan 1950-an di Amerika, musik ini lahir dari hasil ‘leburan’ beberapa genre musik seperti gospel, jazz, boogie woogie, rhythm and blues, dan musik country. Dengan tempo musik konstan dan cepat, serta diiringi dengan not gitar pentatonic scale yang dibalut dengan sedikit overdrive dan volume yang cukup tinggi, genre musik ini menjadi darah baru dan berkembang pesat pada masa itu.

Chuck Berry, Elvis Presley, dan Bill Haley, adalah beberapa musisi dunia yang menjadi ‘penyuntik’ DNA dalam darah musik The Tielman Brothers.

The 4 T’s

Penampilan pertama mereka di Eropa adalah di Hotel De Schuur yang terletak di Catharinalaan, Breda, Belanda. Pada awalnya mereka memperkenalkan diri sebagai The Timor Rhythm Brothers yang kemudian berganti dengan The Four Tielman Brothers atau umumnya dikenal dengan The 4 T’s. Tidak memakan waktu lama, nama mereka sangat dikenal di Belanda khususnya di Breda, dan memulai debut live mereka di beberapa provinsi lain di Belanda.

Expo 58, yang juga dikenal sebagai The Brussels World’s Fair diadakan pada tanggal 17 sampai 19 Oktober 1958, ini adalah perhelatan terbesar dunia setelah Perang Dunia ke II. Musik Hawaiian sangat populer kala itu, dengan bernuansa desa ala Hawai, dekorasi pohon Palm, langit biru, dan tanaman-tanaman eksotis yang melengkapi dekor panggung. Rudi Wairata (steel guitarist), Mike Anoi (Guus ‘broer’ Arends) membawa serta band Hawaiian-nya tampil menjadi bintang utama, dan The Four Tielman Brothers dipercaya untuk mengisi 20 menit waktu jeda di acara tersebut, beberapa band populer lokal Belanda juga turut menyemarakkan acara besar ini. The 4 T’s memberikan ‘hidangan’ rock ‘n’ roll yang belum pernah dilihat masyarakat Eropa sebelumnya.

Hans Joachim Kulenkamp dan Peter Frankenfeld, adalah pembawa acara TV terkenal di Jerman, mereka terkesima akan penampilan The Four Tielman Brothers di Expo sebelumnya, dan mengundang mereka untuk menjadi bintang tamu di acara TV musikal mereka, Paprika.

Penampilan pertama mereka di Jerman dihelat di Plankenkaffee Kosschenhaschen, Mannheim, tanggal 3 sampai 16 Januari 1959. Pertunjukan mereka juga difilmkan oleh Hessischer Rundfunk (HR), dilanjutkan dengan pertunjukan live di TV Jerman pada 27 Januari 1959. Rekaman ini disiarkan kembali di The SWF-Abendschau, dan pada tanggal yang sama mereka juga diundang ke Hotel Deutsches Theater di München dalam pemutaran perdana film Paprika.

Pada tahun 1960 band ini menghilangkan kata ‘four’ sehingga menjadi The Tielman Brothers. Grup band rock n roll ini bertambah satu personel lagi yaitu Franky Luyten yang berada pada posisi rhythm guitar. Awal tahun 1960 adalah waktu pertama kali mereka merilis 4 lagu ciptaan sendiri, yaitu; My Maria, You’re Still The One, Black Eyes, dan Rock Little Baby.

Karya-karya The Tielman Brothers yang cukup menggebrak pasar dan ditambah aksi panggung yang tak kalah memukau membuat banyak orang semakin tertarik. Antara lain aksi solo drum dari Loulou yang dengan lihainya menabuh drum sambil berjalan mengelilingi instrumennya. Sementara itu Ponthon bermain bass gandanya sambil tiduran, jumpalitan, dan juga merangkak di lantai. Tak mau ketinggalan, Andy melakukan aksi panggung yang tak semua orang bisa menirukannya, selain menggunakan kaki Andy juga memainkan gitar dengan menggunakan gigi, bahkan ia memainkannya di belakang leher. Aksi-aksi panggung unik dan berbeda ini jelas jauh sebelum Jimi Hendrix, Jimmy Page (Led Zepelin), ataupun Ritchie Blackmore (Deep Purple/Rainbow) melakukannya.

Tahun 1963 Jane kembali bergabung dengan The Tielman Brothers, selain itu personelnya juga bertambah satu orang lagi yaitu Alphonse Faverey yang bermain di lead guitar. Selanjutnya tahun 1964 terjadi bongkar pasang personel; Franky Luyten, Ponthon Tielman, dan Alphonse Faverey absen dan lalu digantikan Hans Bax pada rhythm guitar, serta Rob Latuperisa ada pada bass guitar (6 string bass).

Gitar 10 Senar

Pada tahun 1961 Andy Tielman merasa terlalu berat dengan gitar Gibson Les Paul-nya, maka dia menukar gitarnya menjadi Olympic White Jazzmasters. Karena merasa terlalu tipis dengan gitar barunya, maka gitar Jazzmaster-nya dimodifikasi sendiri menjadi bersenar 10. Dan tatkala Andy berhasil mendapatkan sound baru yang sangat bagus dari gitarnya, banyak orang menjadi penasaran. Apalagi pada saat manggung untuk beberapa waktu Andy juga sempat menutupi kepala gitarnya dengan handuk. Keunikan 10 senar gitar unik Jazzmaster ini selain ditiru oleh band-band lain, juga menunjukkan bahwa kemampuan Andy Tielman dalam menginovasi gitar listrik cukup diakui dunia lantaran perusahaan gitar sekelas Fender juga sempat meliriknya. Hal ini senada dengan apa yang ditulis oleh seorang peneliti asal Belanda, Cees Bakker.

Masa kejayaan band bersaudara yang dirintis oleh seorang bapak bernama Herman Tielman ini berakhir sekitar tahun 1965, lima tahun setelah kemunculan The Beatles. Sementara The Beatles juga surut pada tahun 1970an. Bubarnya band rock ‘n’ roll sekelas The Tielman Brothers dan The Beatles itu disinyalir karena permainan musik mereka terkesan monoton, tidak berkembang, dan kurang eksploratif. Era musik rock ‘n’ roll telah tergerus jaman dan berganti kepada musik yang digarap oleh Pink Floyd ataupun Led Zepellin.

30 tahun jauh sebelum Frederick Thordendal (Meshuggah), Munky (Korn), ataupun Tosin Abasi (Animals as Leaders), modifikasi gitar dengan jumlah senar atau yang biasa disebut dengan extended-range guitar sudah lebih dulu dikenalkan oleh Andy Tielman, sang legenda dunia kelahiran tanah air.

Berpulangnya Tielman & Sang Frontliner

Jauh setelah masa keemasannya, Andy Tielman sempat menengok negeri kelahirannya, yaitu hadir dan tampil pada ajang Jakarta Rock Parade yang digelar di Tennis Indoor dan Outdoor, Senayan, tahun 2008. Tiga tahun setelah Ratu Beatrix menganugerahinya bintang jasa Order of Orange Nassau berkat kontribusinya untuk perkembangan musik populer di negeri Belanda.

Penghargaan dari Ratu Belanda tahun 2005 itu sangat masuk akal, lantaran musisi dunia sekelas Paul McCartney, yaitu vokalis dan bassis The Beatles, sempat mengagumi aksi panggung The Tielman Brothers. Bahkan tatkala Beatles masih menjadi band kafe Hamburg, Jerman, para personilnya juga menyempatkan diri untuk menyaksikan aksi panggung Tielman Brothers. Disinilah konon pertama kali Paul McCartney melihat penampakan Hofner Violin Bass.

Satu persatu personel The Tielman Brothers ini tutup usia. Sang ayah telah tiada tahun 1979 lampau di The Hague – Belanda, sementara ibu Tielman wafat  di Purworejo, Jawa Tengah, pada tahun 1991. Jane sebagai anggota paling bontot justru paling awal menghadap sang Kuasa yaitu 25 Juni 1993, dua tahun selepas kematian ibunya. Satu tahun berikutnya sang drummer Loulou Tielman menyusulnya, Lolulou meninggal di Cairus Australia tanggal 4 Agustus 1994. Sementara Pemain bas Ponthon Tielman sendiri meninggal di Jember, Jawa Timur, pada  29 April 2000 silam.

Reggy Tielman adalah anggota The Tielman Brothers yang terakhir berpulang pada Tuhan Yang Maha Kuasa, yaitu meninggal di Den Haag pada hari Rabu tanggal 12 Maret 2014. Andy sebagai frontliner The Tielman Brothers meninggal pada Kamis 10 November 2011 di Rijswijk (dekat Den Haag) – Belanda akibat sakit kanker lambung yang dideritanya sejak tahun 2009. Kepergian Andy dan Reggy sebagai generasi akhir The Tielman Brothers ini  tak hanya merupakan kehilangan bagi warga Belanda dan penggemar musik di Eropa, namun juga kesedihan bagi pecinta musik dunia termasuk Indonesia. Meskipun ada opini bahwa Tielman tak merasa menjadi warga Indonesia, namun hal yang tak bisa dipungkiri, The Tielman Brothers tumbuh besar dan menjadi pelopor musik rock awalnya adalah di Surabaya, bagian dari bumi Nusantara.

(Didukung oleh berbagai sumber: Wikipedia, Last.fm, Ensiklo)

Dibalik lahirnya “Smoke On the Water”

Di post pertama ini, saya akan coba mengupas sedikit tentang salah satu lagu rock terbaik sepanjang masa, “Smoke On the Water”.

Lagu ini lahir dari rahim band rock besar Deep Purple yang formasinya terdiri dari Ian Gillan (Vocal), Ritchie Blackmore (Guitar), Jon Lord (Keyboard/hammond, Backing Vocal), Roger Glover (Bass), dan Ian Paice (Drums), ini adalah line-up mereka yang dilabeli dengan Mark II, disebut juga sebagai Classic Line-Up dan merupakan formasi terbaik Deep Purple.

Deep Purple dibentuk pada tahun 1968 di Hertford, Inggris. Mereka diklaim sebagai salah satu dari jajaran band pelopor genre Heavy Metal dan Modern Hard Rock dunia. Band yang termasuk dalam daftar Guinnes Book of World Records sebagai “Band Terbising Sejagat” ini sering disandingkan dengan raksasa rock lain seperti Led Zeppelin & Black Sabbath.

Lagu-lagu mereka seperti Strange Kind of a Woman, Child in Time, Burn, Highway Star, dan Hush menjadi tembang wajib bagi para pencinta musik rock seantero jagat.

Kali ini, saya akan mencoba berbagi apa yang saya tahu tentang lahirnya lagu Smoke On the Water, mohon koreksi para senior kalo ada yang kurang pas dan tidak pada seharusnya, hehe..

The Casino

4 Desember 1971, Deep Purple sedang berada di Montreux, Switzerland, mereka disana untuk memenuhi agenda rekaman album di Montreux Casino. Sang road manager menyarankan untuk tidak dulu memasang set rekaman, karena sebelum mereka, area tersebut akan digunakan oleh Frank Zappa and The Mothers of Invention untuk konser, “oh tentu” kata Ian Gillan.

Di salah satu area, casino’s theater, konser Frank Zappa berlangsung, ketika Don Preston memulai solo nya dalam lagu “King Kong”, salah satu penonton menembakkan pistol suar kearah atas dan memicu kebakaran, kejadian ini diabadikan dalam lirik Smoke On the Water: “some stupid with a flare gun”. Suasana panik melanda area kebakaran di Montreux Casino.

Claude Nobs, direktur Montreux Jazz Festival, berjibaku dalam menolong audiens dan para korban, bahkan dia menyelamatkan Ibu dari salah satu manager Monterux Casino yang sedang memasak. Seketika Frank Zappa menghentikan konsernya dan menggunakan gitarnya untuk memecahkan jendela besar dalam ruangan agar bisa keluar.

The Casino luluh lantak tak bersisa.

Monterux Casino dibangun pada tahun 1881, dan mengalami beberapa modifikasi pada tahun 1903. Sepanjang abad ke 20, bangunan ini menjadi situs populer sebagai tempat diadakannya pertunjukan musik orkestra simfoni yang dibawakan oleh konduktor-konduktor orkestra terkenal. Baru pada awal 1960, para musisi jazz, blues, dan rock mulai tampil di Montreux Casino. Musisi seperti Keith Jarret, Jack DeJohnette, Bill Evans, Nina Simone, Jan Garbarek, dan Ella Fitzgerald pernah ‘menguasai’ panggung disana.

Transformasi Grand Hotel menjadi Mobile Recording Studio

Dengan terpaksa, Nobs memindahkan Deep Purple ke The Pavilion untuk memulai rekaman, tidak berlangsung lama, proses rekaman harus dihentikan polisi setempat karena menganggu ketenangan publik.

Claude Nobs merupakan sosok tak terlupakan bagi Deep Purple, sampai-sampai disebut sebagai ‘The Funky Claude’ dalam lirik Smoke On the Water.

“Funky Claude was running in and out.. Pulling kids out the ground”

Setelah seminggu mencari tempat layak untuk rekaman, mereka memutuskan untuk menyewa Montreux Grand Hotel dan menyulapnya menjadi studio rekaman, tragedi kebakaran di Montreux Casino menjadi satu-satunya pemicu lahirnya lagu rock terbaik sepanjang masa, “Smoke on the Water”.

Greatest Song of All Time

Roger Glover memberi judul “Smoke On the Water” karena terinspirasi dari kejadian di Montreaux Casino yang berlokasi dekat dengan Lake Geneva, api menjalar dari bangunan menuju Lake Geneva. Dan itu, mereka (Deep Purple) saksikan dari hotel dimana mereka menginap. “It was probably the biggest fire I’d ever seen up to that point and probably ever seen in my life” kata Roger Glover.

Menjadi salah satu lagu andalan dalam album Machine Head yang dirilis tahun 1972, “Smoke on the Water” menduduki peringkat 434 dalam list The 500 Greatest Songs of All Time versi Majalah Rolling Stones, peringkat 4 dalam list Greatest Guitar Riffs Ever versi Total Guitar Magazine, dan pada Maret 2005, Q Magazine menempatkan “Smoke on the Water” pada peringkat 12 dalam list The 100 Greatest Guitar Tracks.

Dalam scale blues 4 not di G minor, Ritchie Blackmore menciptakan riff yang hingga hari ini, intro gitar “Smoke On the Water” menjadi riff ‘wajib’ bagi gitaris amatir sampai sekaliber John Petrucci sekalipun.

(Ry)

Moral of the story (at least to my self):

Just keep going.. Everything happens for a reason..