Menyusur Kedigdayaan The Tielman Brothers

The Timor Rhythm Brothers, adalah sebutan awal grup musik yang dibentuk di Surabaya pada tahun 1945 ini, sebelum kemudian bertransfromasi menjadi The Tielman Brothers. Popularitas band ini sudah dimulai jauh sebelum The Beatles dan The Rolling Stones lahir.

Lahir dari pasangan Herman Dirk Tielman dan Flora Laurentine Hess, kelima kakak-beradik ini terdiri dari Andy Tielman (Vocal, Guitar), Reggy Tielman (Guitar, Vocal, Banjo), Ponthon Tielman (Contrabass, Guitar, Vocal), Loulou (Herman Lawrence) Tielman (Drums, Vocal), Jane (Janette Loraine) Tielman (Vocal), The Timor Rhythm Brothers mengawali sejarah mereka dengan membawakan lagu-lagu daerah yang dibumbui dengan tarian khas Indonesia. Bakat musik sang Ayah yang mengalir dalam darah mereka, turut menjadi faktor penentu ‘jalan’ yang telah mereka pilih.

Nama mereka menjadi buah bibir di kalangan masyarakat pada masa itu, sehingga tidak memakan waktu lama bagi mereka untuk menjadi grup yang ditunggu-tunggu sebagai penampil dalam berbagai acara di Indonesia.

Puncak karir mereka di Indonesia ditandai dengan diundangnya The Timor Rhythm Brothers, pada 29 Desember 1949, ke Istana Negara dan bermain di hadapan Presiden Indonesia kala itu, Ir. Soekarno. Sedikit sekali sumber yang menjelaskan lagu apa yang mereka bawakan di Istana, saya berkesimpulan mungkin mereka membawakan lagu-lagu daerah Indonesia, mengingat Presiden Soekarno yang sangat anti dengan rock barat yang selalu beliau sebut dengan musik ‘ngak ngik ngok‘.

Perkembangan karir mereka sangat pesat, mereka mulai meng-cover lagu-lagu musisi lain seperti Les Paul, Elvis Presley, Little Richard, Bill Haley, Fats Domino, Chuck Berry dan Gene Vincent. Pada tahun 1951, mereka memperkenalkan versi lain dari lagu “Guitar Boogie” milik Arthur Smith. Dalam satu wawancara, Andy Tielman mengatakan bahwa “Guitar Boogie” adalah lagu pertamanya dengan The Tielman Brothers yang diubah menjadi rock ‘n’ roll dengan menambahkan drum pada lagu tersebut.

The Tielman Brothers pernah menerima tawaran untuk bermain di seluruh Indonesia, dengan satu syarat mereka harus mengganti status kewarganegaraan dari Belanda menjadi Indonesia. Namun ayah mereka (Herman Tielman) berpendapat lain, menurutnya masa depan di Belanda akan lebih baik bagi anak-anaknya ketimbang di Indonesia.

Keluarga Tielman akhirnya memutuskan untuk hijrah ke Belanda pada tahun 1957, ini adalah awal mula pemicu mereka dalam mendalami musik rock, yang lebih dikenal pada masa itu sebagai Rock ‘n’ Roll. Sebagai informasi, Rock ‘n’ Roll adalah genre musik yang berkembang pada tahun 1940 dan 1950-an di Amerika, musik ini lahir dari hasil ‘leburan’ beberapa genre musik seperti gospel, jazz, boogie woogie, rhythm and blues, dan musik country. Dengan tempo musik konstan dan cepat, serta diiringi dengan not gitar pentatonic scale yang dibalut dengan sedikit overdrive dan volume yang cukup tinggi, genre musik ini menjadi darah baru dan berkembang pesat pada masa itu.

Chuck Berry, Elvis Presley, dan Bill Haley, adalah beberapa musisi dunia yang menjadi ‘penyuntik’ DNA dalam darah musik The Tielman Brothers.

The 4 T’s

Penampilan pertama mereka di Eropa adalah di Hotel De Schuur yang terletak di Catharinalaan, Breda, Belanda. Pada awalnya mereka memperkenalkan diri sebagai The Timor Rhythm Brothers yang kemudian berganti dengan The Four Tielman Brothers atau umumnya dikenal dengan The 4 T’s. Tidak memakan waktu lama, nama mereka sangat dikenal di Belanda khususnya di Breda, dan memulai debut live mereka di beberapa provinsi lain di Belanda.

Expo 58, yang juga dikenal sebagai The Brussels World’s Fair diadakan pada tanggal 17 sampai 19 Oktober 1958, ini adalah perhelatan terbesar dunia setelah Perang Dunia ke II. Musik Hawaiian sangat populer kala itu, dengan bernuansa desa ala Hawai, dekorasi pohon Palm, langit biru, dan tanaman-tanaman eksotis yang melengkapi dekor panggung. Rudi Wairata (steel guitarist), Mike Anoi (Guus ‘broer’ Arends) membawa serta band Hawaiian-nya tampil menjadi bintang utama, dan The Four Tielman Brothers dipercaya untuk mengisi 20 menit waktu jeda di acara tersebut, beberapa band populer lokal Belanda juga turut menyemarakkan acara besar ini. The 4 T’s memberikan ‘hidangan’ rock ‘n’ roll yang belum pernah dilihat masyarakat Eropa sebelumnya.

Hans Joachim Kulenkamp dan Peter Frankenfeld, adalah pembawa acara TV terkenal di Jerman, mereka terkesima akan penampilan The Four Tielman Brothers di Expo sebelumnya, dan mengundang mereka untuk menjadi bintang tamu di acara TV musikal mereka, Paprika.

Penampilan pertama mereka di Jerman dihelat di Plankenkaffee Kosschenhaschen, Mannheim, tanggal 3 sampai 16 Januari 1959. Pertunjukan mereka juga difilmkan oleh Hessischer Rundfunk (HR), dilanjutkan dengan pertunjukan live di TV Jerman pada 27 Januari 1959. Rekaman ini disiarkan kembali di The SWF-Abendschau, dan pada tanggal yang sama mereka juga diundang ke Hotel Deutsches Theater di München dalam pemutaran perdana film Paprika.

Pada tahun 1960 band ini menghilangkan kata ‘four’ sehingga menjadi The Tielman Brothers. Grup band rock n roll ini bertambah satu personel lagi yaitu Franky Luyten yang berada pada posisi rhythm guitar. Awal tahun 1960 adalah waktu pertama kali mereka merilis 4 lagu ciptaan sendiri, yaitu; My Maria, You’re Still The One, Black Eyes, dan Rock Little Baby.

Karya-karya The Tielman Brothers yang cukup menggebrak pasar dan ditambah aksi panggung yang tak kalah memukau membuat banyak orang semakin tertarik. Antara lain aksi solo drum dari Loulou yang dengan lihainya menabuh drum sambil berjalan mengelilingi instrumennya. Sementara itu Ponthon bermain bass gandanya sambil tiduran, jumpalitan, dan juga merangkak di lantai. Tak mau ketinggalan, Andy melakukan aksi panggung yang tak semua orang bisa menirukannya, selain menggunakan kaki Andy juga memainkan gitar dengan menggunakan gigi, bahkan ia memainkannya di belakang leher. Aksi-aksi panggung unik dan berbeda ini jelas jauh sebelum Jimi Hendrix, Jimmy Page (Led Zepelin), ataupun Ritchie Blackmore (Deep Purple/Rainbow) melakukannya.

Tahun 1963 Jane kembali bergabung dengan The Tielman Brothers, selain itu personelnya juga bertambah satu orang lagi yaitu Alphonse Faverey yang bermain di lead guitar. Selanjutnya tahun 1964 terjadi bongkar pasang personel; Franky Luyten, Ponthon Tielman, dan Alphonse Faverey absen dan lalu digantikan Hans Bax pada rhythm guitar, serta Rob Latuperisa ada pada bass guitar (6 string bass).

Gitar 10 Senar

Pada tahun 1961 Andy Tielman merasa terlalu berat dengan gitar Gibson Les Paul-nya, maka dia menukar gitarnya menjadi Olympic White Jazzmasters. Karena merasa terlalu tipis dengan gitar barunya, maka gitar Jazzmaster-nya dimodifikasi sendiri menjadi bersenar 10. Dan tatkala Andy berhasil mendapatkan sound baru yang sangat bagus dari gitarnya, banyak orang menjadi penasaran. Apalagi pada saat manggung untuk beberapa waktu Andy juga sempat menutupi kepala gitarnya dengan handuk. Keunikan 10 senar gitar unik Jazzmaster ini selain ditiru oleh band-band lain, juga menunjukkan bahwa kemampuan Andy Tielman dalam menginovasi gitar listrik cukup diakui dunia lantaran perusahaan gitar sekelas Fender juga sempat meliriknya. Hal ini senada dengan apa yang ditulis oleh seorang peneliti asal Belanda, Cees Bakker.

Masa kejayaan band bersaudara yang dirintis oleh seorang bapak bernama Herman Tielman ini berakhir sekitar tahun 1965, lima tahun setelah kemunculan The Beatles. Sementara The Beatles juga surut pada tahun 1970an. Bubarnya band rock ‘n’ roll sekelas The Tielman Brothers dan The Beatles itu disinyalir karena permainan musik mereka terkesan monoton, tidak berkembang, dan kurang eksploratif. Era musik rock ‘n’ roll telah tergerus jaman dan berganti kepada musik yang digarap oleh Pink Floyd ataupun Led Zepellin.

30 tahun jauh sebelum Frederick Thordendal (Meshuggah), Munky (Korn), ataupun Tosin Abasi (Animals as Leaders), modifikasi gitar dengan jumlah senar atau yang biasa disebut dengan extended-range guitar sudah lebih dulu dikenalkan oleh Andy Tielman, sang legenda dunia kelahiran tanah air.

Berpulangnya Tielman & Sang Frontliner

Jauh setelah masa keemasannya, Andy Tielman sempat menengok negeri kelahirannya, yaitu hadir dan tampil pada ajang Jakarta Rock Parade yang digelar di Tennis Indoor dan Outdoor, Senayan, tahun 2008. Tiga tahun setelah Ratu Beatrix menganugerahinya bintang jasa Order of Orange Nassau berkat kontribusinya untuk perkembangan musik populer di negeri Belanda.

Penghargaan dari Ratu Belanda tahun 2005 itu sangat masuk akal, lantaran musisi dunia sekelas Paul McCartney, yaitu vokalis dan bassis The Beatles, sempat mengagumi aksi panggung The Tielman Brothers. Bahkan tatkala Beatles masih menjadi band kafe Hamburg, Jerman, para personilnya juga menyempatkan diri untuk menyaksikan aksi panggung Tielman Brothers. Disinilah konon pertama kali Paul McCartney melihat penampakan Hofner Violin Bass.

Satu persatu personel The Tielman Brothers ini tutup usia. Sang ayah telah tiada tahun 1979 lampau di The Hague – Belanda, sementara ibu Tielman wafat  di Purworejo, Jawa Tengah, pada tahun 1991. Jane sebagai anggota paling bontot justru paling awal menghadap sang Kuasa yaitu 25 Juni 1993, dua tahun selepas kematian ibunya. Satu tahun berikutnya sang drummer Loulou Tielman menyusulnya, Lolulou meninggal di Cairus Australia tanggal 4 Agustus 1994. Sementara Pemain bas Ponthon Tielman sendiri meninggal di Jember, Jawa Timur, pada  29 April 2000 silam.

Reggy Tielman adalah anggota The Tielman Brothers yang terakhir berpulang pada Tuhan Yang Maha Kuasa, yaitu meninggal di Den Haag pada hari Rabu tanggal 12 Maret 2014. Andy sebagai frontliner The Tielman Brothers meninggal pada Kamis 10 November 2011 di Rijswijk (dekat Den Haag) – Belanda akibat sakit kanker lambung yang dideritanya sejak tahun 2009. Kepergian Andy dan Reggy sebagai generasi akhir The Tielman Brothers ini  tak hanya merupakan kehilangan bagi warga Belanda dan penggemar musik di Eropa, namun juga kesedihan bagi pecinta musik dunia termasuk Indonesia. Meskipun ada opini bahwa Tielman tak merasa menjadi warga Indonesia, namun hal yang tak bisa dipungkiri, The Tielman Brothers tumbuh besar dan menjadi pelopor musik rock awalnya adalah di Surabaya, bagian dari bumi Nusantara.

(Didukung oleh berbagai sumber: Wikipedia, Last.fm, Ensiklo)

Advertisements

6 thoughts on “Menyusur Kedigdayaan The Tielman Brothers

  1. Inspirasi buat the beatles, dan pada masa jaya nya, banyak blonde2 blanda yg semir rambutnya jadi hitam biar mirip the sama mereka. Very nice article!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s