Beers, Harley, and ‘Southern Metal’

Ketika Nirvana, Oasis, Radiohead, dan Chino Moreno mulai tanggal dari jajaran poster di kamar saya, ‘setan-setan’ kecil berwajah baru mulai terbang mengelilingi kepala saya, setan kecil berjanggut lebat, berjaket kulit, dan bersepatu boots yang mulai mengambil aba-aba untuk merasuki pikiran saya.

Begitulah, usia kepala tiga membuat playlist di iPod saya sedikit berubah. Dulu, Sepultura, Lamb Of God, Arkangel, Hatebreed, Terror, Strife, Sick Of It All, dan Meshuggah selalu ‘repeat all‘ di mp3 player saya. Banyak faktor, salah satunya mungkin karena telinga saya yang sudah tidak mampu mendengarkan musik bising bertempo cepat. Hardcore, Progressive Metal, Death Metal (you name it), perlahan mulai menjadi simpanan bergiga-giga di external hard disk, kaus-kaus band metal yang kebanyakan berwarna hitam kini hanya saya gunakan untuk tidur, mengingat selain kaus itu saya hanya punya kemeja kantor.

Fase ini membawa saya beralih ke ‘dimensi’ lain, tampilan bikers berjaket kulit, berjanggut tebal, dan bercelana jeans belel merubah mindset saya tentang ‘keren’, bagi saya begitulah refleksi dari pria sejati. Berawal dari kesukaan saya akan film-film bertema Harley Davidson, sebut saja serial Sons Of Anarchy dan Outlaw Chronicles: Hells Angels. Satu hal yang tidak kalah penting adalah soundtrack dari film tersebut, musik bertempo lambat, dengan low tuning guitar, dan distorsi tebal seakan slow motion mengalun merasuki telinga saya. Wow, musik apa ini? Berbekal sedikit pengetahuan saya akan musik metal dan rock, saya mulai menjelajah internet bermaksud mencari tahu genre musik apa ini.

Tidak terhitung berapa kata kunci yang sudah saya masukkan ke kotak pencarian Google tapi tidak juga matched dengan apa yang saya cari, ‘Sliding Metal Blues’, ‘Drunk Rock’, ‘Beer Sliding Metal’, ‘Slow Tempo Blues Metal’, ‘Bikers Metal Blues’, …ah sudahlah.

Waktu berlalu, saya mendengarkan Black Label Society via streaming Youtube untuk menemani saya menghadapi deadline di kantor, yup, Zakk Wylde-lah yang mempertemukan saya dengan klasifikasi musik jenis ini, fitur related video di Youtube menuntun saya pada ‘swamp rock playlist’. Ok, gotcha.. This is the correct keyword, this is what i’m looking for!

Perkawinan ‘Sedarah’ Folk, Country, dan Blues

Swamp‘, ibarat cangkul emas baja berkekuatan besar yang membantu saya menggali jenis musik ini, ada berbagai lapisan yang harus saya hadapi untuk sampai ke dasar paling bawah, yang menurut saya akar dari jenis musik ini adalah Blues, yang tumbuh menjalar menjadi berbagai jenis musik dan berkembang hingga saat ini.

‘Ibu kandung’ dari musik ini adalah Swamp Blues yang dikenal juga dengan the Excello Sound, adalah subgenre dari musik blues dan merupakan varian dari Lousiana Blues yang dikembangkan di sekitar Baton Rouge pada tahun 1950-an dan mencapai puncak popularitasnya pada sekitar tahun 1960. Umumnya musik ini bertempo lambat dan sangat terpengaruh akan genre musik lain, seperti New Orleans Blues, Zydeco, Soul, dan musik Cajun. Pengusung musik ini yang cukup populer adalah Slim Harpo dan Lightnin’ Slim.

Banyaknya musisi kulit putih yang juga menggemari swamp blues membuatnya mengalami ‘kawin silang’ dengan genre musik lain, hasil dari pencangkokan ini adalah Roots Rock, dan merupakan batang baru pada ‘pohon besar’ ini. Folk, Blues, dan Country memegang peran penting dalam lahirnya Roots Rock, musik ini juga terkait dengan lahirnya Country Rock dan Southern Rock yang berkembang pada tahun 1960-an. Roots Rock juga disebut sebagai ‘tanggapan’ atas mendominasinya aliran musik Psychedelic dan Progressive Rock.

Gelombang Panas dari Ranah Selatan

Southern Rock, adalah subgenre dari musik rock dan merupakan genre yang biasa disebut dengan Americana. Berkembang di Amerika bagian selatan, dan merupakan hasil godokan dari rock ‘n’ roll, country, dan blues. Pada umumnya, musik ini sangat menonjolkan gitar elektrik dan vokal. The Allman Brothers Band, Barefoot Jerry, dan Charlie Daniels merupakan beberapa musisi pengusung sourthern rock pada akhir 60-an. Banyak orang berpendapat bahwa kontribusi besar southern rock pada perkembangan rock ‘n’ roll telah ‘diciutkan’ dari sejarah musik rock dunia.

Pada awal 1970, gelombang Southern Hard Rock mulai menampakkan taring nya, musik ini menekankan pada boogie rhythms dan melodi gitar cepat, serta lirik yang mewakili nilai dan aspirasi para kaum muda pekerja dari selatan. Beberapa nama besar dari musik ini adalah The Marshall Tucker Band, Lynyrd Skynyrd, Molly Hatchet, Outlaws, Atlanta Rhythm Section, dan Blackfoot. Nama-nama seperti Drivin N Cryin, Dash Rip Rock, dan The Kentucky Headhunters muncul sebagai band southern populer di seluruh Amerika Bagian Selatan sepanjang tahun 1980 dan 1990-an. Nama lainnya adalah Tom Petty and The Heartbreakers, Stevie Ray Vaughan, dan The Fabulous Thunderbirds.

Generasi 90-an juga menyaksikan bagaimana pengaruh southern rock ‘menyentuh’ genre musik Metal. Pada tahun 2001, Kid Rock pun memutuskan berubah haluan dari rock/rapper menjadi southern rocker dan penyanyi country. Southern rock kini masih terdengar di radio di Amerika, tapi kebanyakan stasiun radio ‘jadul’ ataupun radio bertema classic rock yang memutar musik ini. Sebagai tambahan, band alternative rock seperti Kings of Leon berusaha mengombinasikan southern rock dengan garage rock, alt-country, dan blues rock.

Di ‘bawah tanah’, modifikasi genre southern rock mendidih menjadi lebih keras, cepat, dan mungkin bisa dibilang lebih ‘berandalan’. Dengan drum set ‘beramunisi’ double pedal, distorsi gitar hampir 100 persen, sound bass yang lebih crunchy, ditambah dengan vokal serak yang lebih ter-distorsi, southern rock bertransformasi menjadi lebih gahar berlabel Southern Metal. Pantera, Black Label Society, Down, Exhorder, Crowbar, Eyehategod, dan Texas Hippie Coalition adalah nama besar dari aliran musik ini.

Dimebag Darrell, gitaris Pantera, mungkin cukup pantas dinobatkan sebagai ‘Godfather‘ dalam genre musik southern metal ini. Sangat disayangkan, Pantera harus mengakhiri kedigdayaannya pada tahun 2003 karena perselisihan Dimebag Darrell dengan sang vokalis Philip Anselmo, dan disusul dengan tragedi ditembaknya Dimebag oleh fans nya ketika diatas panggung saat bermain dengan band baru nya, Damage Plan.

Antara Bir, Harley, dan Southern Rock

Gaya hidup penganut aliran musik ini memang erat kaitannya dengan bir dan motor besar tradisional Amerika, sebut saja Harley Davidson. Dengan jaket/rompi kulit ber-emblem, jeans, sepatu boots, bandana, dan dompet kulit terkait rantai, secara konvoi atau perorangan mereka menyusuri sepanjang jalan tanpa takut dihadang polisi ataupun kemacetan lalu lintas. Mereka berhenti di bar lokal hanya untuk minum bir ataupun berkumpul dengan teman satu club nya. Saya tidak akan membahas motorcycle club seperti Hells Angels, Bandidos, Outlaws, dan sebagainya. Too scary to be told.

Media komersil pun seakan setuju akan hal ini. Di TV, saat menampilkan hal yang berkaitan dengan klub motor besar Harley Davidson, seketika suara gitar elektrik ber-distorsi dengan low tuning mengalun lambat, dimainkan dengan slide, lalu frame kamera mengarah ke spot di pinggir jalan dimana tergolek tengkorak kepala binatang yang mati karena kelaparan, tak lama terdengar suara deru mesin motor besar yang seakan fade in mengisi kesunyian terik hari, dengan kecepatan tinggi konvoi para Biker melesat mendekat ke arah perspektif kamera.

See? I told you.. They are so fuckin’ cool!

(Ry)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s